Salah Jurusan Bukan Berarti Salah Masa Depan (Sebuah Perjalanan Hidup)

Halooo..

Jadi ceritanya beberapa waktu yang lalu ada salah seorang pembaca blogku yang tiba-tiba ninggalin pesan ke blogku. Isinya kurang lebih bahwa dia tengah mengalami yang namanya salah jurusan dan sedang galau akan masa depannya.

Sebagai orang yang pernah mengalami hal tersebut, aku akan coba share pengalamanku tentang Salah Jurusan ini.


Masa Putih Abu-Abu

 

Halo, kenalin namaku adalah Tian. Saat itu aku adalah siswa kelas XII Jurusan IPA di salah satu SMA di daerahku. Aku bercita-cita ingin mendapatkan beasiswa kuliah di negeri Jepang. Oleh karenanya aku belajar mati-matian demi bisa lulus Ujian Nasional dengan nilai yang sangat memuaskan. Bahkan aku sampe minjem buku bahasa jepang buat aku pelajarin terutama soal Katakana dan Hiragana. Yah, meskipun sewaktu aku ceritakan soal cita-citaku ini kepada beberapa orang temanku merak justru menertawakannya. Tapi aku tetap tidak menyerah dengan mimpiku.

Tibalah saat Ujian Nasional, ada banyak dari temen-temen yang memakai kunci jawaban yang entah darimana dapetnya aku tidak tahu. Bahkan aku sempat ditawarin, namun aku menolaknya dengan halus dan bersikeras untuk mengerjakannya dengan jujur. Namun sayang seribu sayang, aku harus mengubur cita-cita untuk mendapatkan beasiswa kuliah di Jepang. Aku mendapati nilai Ujianku yang ancur parah.

Sedih?

Sudah pasti, apalagi ditambah banyaknya dari teman-temanku yang mendapatkan nilai yang sangat memuaskan. Aku langsung memutuskan untuk pulang kerumah mengayuh sepeda onthelku dengan wajah yang lesu.

Namun seketika ada seorang temanku yang menepuk bahu kiriku, dia bersama sepeda hitamnya kemudian berkata dengan sangat bijak;

“Jangan pernah menyesal telah berbuat jujur”

Ucapnya dengan tersenyum.

Ya aku tahu siapa dia, dia adalah anak laki-laki yang sangat cerdas dan terkenal akan kejujurannya.

Aku hanya bisa tersenyum kecut membalas ucapannya.

Salah Jurusan Bukan Berarti Salah Masa Depan

 

Putih Abu-Abu Telah Usai

 

Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Sudah cukup lama sejak hari kelulusanku dari SMA. Namun aku masih saja belum mendapatkan tempat untuk menimba ilmu di bangku perkuliahan.
Sudah ikut SNMPTN, SBMPTN, Ujian Mandiri di beberapa Universitas terkemuka namun semuanya masih saja gagal. Padahal aku sudah berusaha dan belajar sangat giat. Berbanding terbalik dengan keadaanku yang menyedihkan ini, teman-temanku banyak yang sudah diterima di banyak kampus ternama. Membuatku semakin minder dan tidak percaya diri.

Bahkan saat kumpul-kumpul bareng, saat membahas soal tempat kuliah. Aku lebih banyak diam daripada berkomentar, karena rasanya sangat menyakitkan dan menyedihkan.

Dan pada akhirnya aku mencoba untuk mendaftar kuliah di kampus swasta yang cukup terkenal. Berhubung aku ini orangnya suka hafal menghafal ketimbang hitung menghitung, aku memutuskan untuk memilih jurusan Pendidikan Biologi. Namun karena di blanko pendaftaran harus mencantumkan 2 jurusan yang mau dituju, maka pada pilihan pertama aku memilih jurusan Pendidikan Fisika sedangkan pada pilihan kedua aku memilih jurusan Pendidikan Biologi.

 

Kenapa begitu?

 

Karena aku berpikiran pasti tidak lolos PendidikanFisika kemudian aku bisa masuk Pendidikan Biologi, sedangkan kalo Pendidikan Biologi aku taruh di pilihan pertama jika aku tidak lolos maka berakhirlah sudah. Tapi sesuatu yang lucu terjadi, aku justru lolos dan kuliah di Pendidikan Fisika hahaha

 

Drop Out?

 

Akupun memutuskan untuk merantau ke luar kota untuk berkuliah. Awalnya aku cukup enjoy dan bisa menikmati masa-masa perkuliahan karena aku mempunyai teman-teman yang baik. Namun makin kesini aku sadar bahwa aku sedang mengalami kejadian yang disebut dengan Salah Jurusan.

Aku mulai merasa tidak nyaman, galau dan merasa bahwa kedepannya akan semakin sulit karena aku tidak pandai dalam hitung-hitungan. Mungkin sama seperti kalian yang sedang mengalami ini, aku banyak mencari artikel di internet perihal Salah Jurusan. Aku memikirkannya berhari-hari kemudian karena aku orang Islam, aku meminta petunjuk kepada-Nya dengan melalui shalat Tahajud dan Istiqarah.

Salah satu foto jaman masih kuliah di Pendidikan Fisika
Salah satu foto jaman masih kuliah di Pendidikan Fisika

Tepatnya pada siang hari selepas jam perkuliahan, aku mantap untuk memutuskan Drop Out dari perkuliahan. Aku bayar lunas uang kostan di bulan ini (padahal belum saatnya untuk membayar uang kost) dan pamit kepada seluruh teman-teman dan pemilik kost bahwa aku memutuskan untuk berhenti kuliah dan ngekost. Aku bawa seluruh barang bawaanku selama ngekost dan pulang kembali ke rumah.

Tentu saja kedua orang tuaku tidak terima begitu saja, aku jelaskan kepada mereka bahwa aku minta maaf dan berkata bahwa aku tidak bisa melanjutkan perkuliahan lagi disana. Sesegera mungkin aku akan mencari kampus lain lagi.

 

Perjuangan Mendapatkan Bangku Kuliah Lagi

 

Well, selama nganggur sembari nunggu pembukaan pendaftaran mahasiswa di kampus-kampus itu bukanlah hal yang mudah. Aku banyak sekali menerima cibiran, sindiran, dan diremehkan oleh banyak orang. Apalagi aku yang terkenal sebagai anak baik yang gak neko-neko yang sering berprestasi di sekolah dan cukup pintar, tiba-tiba memutuskan untuk Drop Out dari kuliah membuat banyak orang memandangku rendah. Setiap kali ada tamu datang ke rumah, aku bersembunyi di dalam kamar dan menutup kedua telingaku. Saking-sakingnya aku tidak mau mendengar obrolan tentang perkuliahan.
Hari-hari kujalani dengan amat berat, aku bahkan hampir merasa gila dengan banyaknya tekanan serta cibiran dan sindiran sana-sini. Aku merasa menjadi seorang pecundang yang selalu gagal dan selalu membandingkan keberhasilan orang lain.

Untungnya selama ini aku selalu mempunyai seseorang yang selalu support aku disetiap kondisi terburukku. Dia adalah orang yang tidak pernah pergi meninggalkanku dalam kondisi terburukmu saat itu. Aku bisa bangkit kembali karena ada sosoknya.

Aku kembali belajar keras dan mendaftar lagi SNMPTN, SBMPTN, Ujian Mandiri di kampus terkemuka namun gagal lagi. Kemudian aku mendaftar di kampus kesehatan milik kemenkes namun gagal lagi di test Kesehatannya (kemungkinan karena aku mempunyai mata minus).

 

Salah Jurusan Lagi

 

Yasudah pada akhirnya aku memutuskan untuk berkuliah di kampus kesehatan swasta di salah satu kota ku. Disini aku mendapatkan teman-teman yang sangat berharga yang kuanggap sebagai keluargaku sendiri sampai sekarang. Aku bisa menikmati masa-masa perkuliahan berkat mereka ini. Pada semester-semester awal kuliah ini aku melihat postingan salah seorang kakak kelasku sma di sosial media yang isinya dia tengah mendapatkan beasiswa di kampusnya dan berlokasi di pendopo kabupaten di kota ku. Aku melihatnya dengan takjub dan pastinya sangat membanggakan.

Teman Seperjuangan!
Teman Seperjuangan!

Dari situ aku bertekad bahwa aku juga bisa seperti dirinya. Aku mulai belajar dengan sungguh-sungguh, aku pun juga banyak membantu teman-teman yang merasa kesulitan dengan materi perkuliahan dengan membentuk suatu kelompok belajar bersama. Aku mengulang dan mengajar kembali ke temen-temen materi perkuliahan dari dosen. Ya intinya kita belajar bersama pada waktu. Dan puncaknya ketika wisuda kelulusan kakak kelasku, aku mendapatkan beasiswa perkuliahan sebagai mahasiswa berperstasi. Aku diminta maju bersama ibuku dan disaksikan oleh banyak orang.

Aku bergumam lirih “Oh, jadi seperti rasanya.. membanggakan ya”. Akhirnya aku bisa membuat bangga orang tuaku pada saat itu, aku bisa menunjukkan bahwa aku bukanlah sebuah kegagalan.

 

Apakah penderitaan berhenti sampai disitu?

Oh, tentu saja tidak.

 

Semasa praktek di banyak rumah sakit aku merasakan lagi bahwa aku sedang mengalami Salah Jurusan karena aku tidak nyaman dengan lingkungan bekerja yang nantinya akan aku jalani. Aku bahkan hampir berkali-kali ingin memutuskan untuk Dop Out kuliah lagi, namun niat itu selalu gagal. Aku bersyukur memiliki teman-teman yang selalu membuatku nyaman dalam menjalani kehidupan perkuliahan. Mungkin kalo tanpa mereka aku sudah memutuskan untuk Drop Out.

Semsester-semester selanjutnya aku memutuskan untuk mencoba mencari rezeki lain dari bidang yang aku pelajari, siapa tahu aku bisa sukses disana. Aku banyak belajar soal desain grafis, pemrograman android, ngeblog. Dan bekerja sebagai freelancer, dari awalnya yang cuma dapet kupon belanja yang kubelanjakan sebuah dompet ke ibuku hingga aku bisa membeli perlengkapan kamera yang tentu saja tidaklah murah.

Aku pun mulai belajar fotografi dan dari hal tersebut pula turut menambah pundi-pundi penghasilanku. Aku pun mulai malas dan enggan untuk belajar. Yang tadinya duduk di bangku paling depan jadi duduk di bangku paling belakang hahaha.

 

Pengangguran yang Berpenghasilan

 

Masa-masa perjuangan mencari dan berkuliah telah usai. Syukur alhamdulillah saat aku wisuda aku lulus dan menjadi salah seorang dari 10 Wisudawan dengan Nilai Tertinggi. Padahal di akhir-akhir semester aku tidak segiat dulu belajarnya hahaha..

Pada Akhirnya Wisuda Juga!
Pada Akhirnya Wisuda Juga!

Seusai wisuda, aku tidak buru-buru langsung mencari pekerjaan. Aku ingin bernafas dan beristirahat karena menurutku beberapa tahun sebelumnya adalah tahun-tahun yang sangat melelahkan buatku. Perjuangan dari mencari bangku kuliah, hingga tragedi salah jurusan membuatku sangat kelelahan.

Untungnya aku bekerja sebagai freelancer, jadi aku meskipun menganggur tetapi penghasilan tetap jalan terus hehe. Aku banyak apply CV namun tidak ada satupun yang nyantol. Mungkin karena aku setengah hati, serta aku bingung harus dibawa kemana masa depanku.

Aku harus kerja apa? Sedangkan pada waktu itu aku merasa tidak ingin bekerja sesuai kualifikasi pendidikan kuliahku sebagai tenaga kesehatan. Itu adalah sesuatu yang sangat membuatku galau.

Aku membeli banyak buku-buku untuk belajar materi-materi yang akan diujikan saat test masuk kerja. Aku bahkan bulan Juli kemaren sudah membeli buku CPNS dan mulai mencicil belajar.

 

Lolos CPNS

 

Pada awal-awal pembukaan seleksi CPNS, aku belajar giat dan langsung melengkapi semua yang dibutuhkan untuk mendaftar CPNS. Namun di tengah jalan perjuangan meraih CPNS, ada kejadian yang membuagku sangat ngedown parah bahkan aku merasa bahwa sedang mengalami titik terendah dalam hidupku untuk yang kedua kalinya.

Pikiranku jadi kacau, belajarpun jadi banyak yang tidak masuk di otak sekeras apapun aku mencoba, pikiranku kosong dan banyak melamun.

Ditengah-tengah situasi yang sangat menyulitkan tersebut, tak henti-hentinya aku berdoa, puasa Senin-Kamis dan sholat malam Tahajud & Istiqarah.

Syukur alhamdulillah aku berhasil lolos menjadi CPNS, dan sekarang aku sudah mendapatkan pekerjaan dengan lingkungan kerja dan rekan-rekan kerja yang super menyenangkan.

(Mungkin cerita tentang perjuangan meraih CPNS akan aku share di postingan selanjutnya kalo banyak yang minta hehe)

 

Apa yang Harus di Lakukan Ketika Salah Jurusan?

 

1. Ikuti Hati Tapi Harus Realistis

 

Berdasarkan pengalamanku sebelumnya, yang harus dilakukan ketika salah jurusan adalah kamu harus mendengar kata hatimu sendiri. Kemana kamu harus melangkah kedepan harus sesuai dengan kata hatimu. Itu makanya aku sampai sholat malam Tahajud & Istiqarah untuk meminta petunjuk dari Allah mana yang terbaik untukku.

Aku tidak bisa bilang bahwa harus mengikuti passion atau tidak, masa depan kalian adalah sesuatu yang harus kalian putuskan sendiri. Ikuti kata hati namun juga harus realistis.

 

2. Jangan Menyerah!

 

Ini yang harus digaris bawahi tebal-tebal, yaitu jangan mudah menyerah!. Jika kalian sudah memutuskan untuk tetap stay di jurusan kalian saat ini ataupun memutuskan untuk pindah (tentunya masing2 pilihan ada konsekuensinya, dan aku yakin kalian sudah cukup dewasa untuk menentukan masa depan kalian sendiri) maka hal wajib yang harus dilakukan adalah jangan menyerah sesulit apapun situasinya.

Udah percaya aja deh, jangan mudah menyerah.

Aku yang banyak sekali mengalami kegagalan yang bahkan membuatku down, galau, dan hampir gila saja tetap tidak pernah menyerah sesulit apapun situasinya. Aku tetap dan selalu bermimpi tinggi, sekalipun itu diremehkan, direndahkan dan ada yang berkata (jangan bermimpi tinggi, kalau jatuh nanti sakit). Bagiku dengan bermimpi tinggi membuat kita tidak mudah menyerah, sekalipun jatuh masih bisa jatuh di gunung dulu, atap hotel, atap apartemen atau bahkan atap rumah. Tidak langsung jatuh ke tanah, begitulah kira-kira candaannya haha.

 

3. Dekatkan diri dengan Tuhan

 

Ini yang gak kalah pentingnya, tetap dan selalu berdoalah kepada Tuhan. Mau sesulit apapun situasinya. Karena kalo dalam Islam ada ayat dalam Surat Al-Insyirah yang berbunyi;

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. An Nasyr: 5)

Ayat ini pun diulang lagi setelahnya,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. An Nasyr: 6)

 

Ya mungkin itu saja pengalaman yang bisa aku share, kalo kalian pernah atau sedang mengalami fase kehidupan kayak gini.

Feel free untuk berkomentar di tulisanku ini atau bisa menghubungiku lewat blog ini, email atau sosial mediaku. Aku akan menjawab pertanyaan kalian atau mungkin mendengar curhatan kalian.

Bersama rekan-rekan kerja

 

Tetap Semangat!

Jangan Menyerah!

Silahkan tinggalkan komentar

2 tanggapan untuk “Salah Jurusan Bukan Berarti Salah Masa Depan (Sebuah Perjalanan Hidup)”

  1. jangan menyrah kak usuuppp. sekarag udah jadi pns kann akhirnya sukses selalu adik acuh.. sama nih aku juga jurusan teknik eeeh malah jadi beginian wkwkkw.. semangat supp sukses selalu.. salah jurusan gak bisa menentukan masa depan seseorang..

Tinggalkan komentar agar aku bisa berkunjung ke blog kalian :)